PEMUDA FIRMAN RADESA JAMBUDIPA PELOPOR RADIO BERBASIS INFORMASI WARGA
Cari Berita

Advertisement

PEMUDA FIRMAN RADESA JAMBUDIPA PELOPOR RADIO BERBASIS INFORMASI WARGA

Thursday, September 3, 2020



PEMUDA FIRMAN RADESA JAMBUDIPA PELOPOR RADIO BERBASIS INFORMASI WARGA 


Cianjur//JournalNews.co.id: Radesa atau Radio komunikasi pancar ulang antar desa adalah radio komunitas milik warga yang digagas oleh anak muda enerjik, Firman Felani, S.Pd.I (33) asal Desa Jambudipa Kecamatan Warungkondang Cianjur. Terbentuknya Radesa ini berawal dari keinginan warga dan pemerintah desa untuk memiliki sarana komunikasi antar warga dan antar desa untuk memperoleh informasi-informasi bermanfaat seputar kegiatan sosial, pendidikan, dan keagamaan yang bersifat menyeluruh dan terbuka untuk semua warga.
“Alhamdulillah Radesa yang kami gagas mampu menjadi penyambung silaturahmi antar warga, sekaligus menjadi sumber informasi terkait dengan kegiatan sosial, pendidikan, dan agama. Hal-hal yang berkorelasi erat dengan kehidupan warga menjadi fokus kita di Radesa ini, halnya permasalahan keamanan lingkungan, kegiatan kepemudaan, kerja bakti, serta hal positif lainnya yang mampu membangun kualitas hidup pemerintahan desa dengan rakyatnya. Semuanya kita sampaikan di Sentra Radio ini.” tutur Firman penuh rasa syukur.
Gambar: Para pinisepuh dan aparat yang menjadi pembina Radesa, media komunitas milik warga dan pemerintah desa. Pemuda selalu memiliki cara untuk mengukir sejarah kotanya.

Ayah dua orang anak inipun menambahkan bahwa setiap satu bulan sekali selalu diadakan temu kangen antar pengurus Radesa di Kecamatan Warungkondang secara bergilir ke tiap-tiap desa yang memiiki jaringan Radio komunitas ini.
“Dalam rangka temu kangen antar pengurus Radesa, kami laksanakan kegitan yg di gelar setiap satu bln sekali dengan cara bergilir di tiap2 desa. Organisasi ini saya bangun dengan tujuan bergerak di bidang yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, yaitu sosial, pendidikan, dan keagamaan. Besar harapan saya, semangat baik ini dapat memperoleh perhatian dari para pejabat yang ada di Kabupaten. Ini potensi positif warga dan harus dibina terus oleh pemerintah setempat.” Ungkap pria yang juga pendidik di SMA Jambudipa Yayasan Jasa Muhayat ini meyakinkan. Agenda yg sedang di jlnkan oleh Firman saat ini adalah  konsolidasi ke tiap-tiap desa, menjalin kerjasama dengan kepala desa terkait masalah keamanan lingkungan sosial, pendidikan, dan keagamaan.
“Ke depannya kami berharap Radesa berkedudukan di tingkat kabupaten, bukan lagi skup kecil radio komunitas di Desa jambudipa saja, melainkan meyeluruh di Kabupaten Cianjur ini. Kami siap untuk mempresentasikan apa yang sedang dan sudah kami kerjakan untuk pemberdayaan umat ini, satu diantaranya melalui jejaring Radesa yang sudah saya lakukan bersama warga.” Tambahnya.
Selain sebagai aktivis desa yang menggagas Radesa, Firman pun turut serta menyelamatkan lingkungan dari limbah sampah. Ia kini tengah merintis bisnis daur ulang plastik, bisnis yang tidak terlalu populer dikalangan anak muda milenial seperti Firman, namun ia bersikukuh bahwa ini bukan semata-mata bisnis melainkan aktivitas kesalehan sosial guna menyelamtkan bumi dari keganasan sampah plastik yang sulit diurai oleh tanah.
“InshaAllah saya meyakini dengan ikhtiar kecil ini, saya dan kawan-kawan akan terus berupaya untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan dari kekeringan dan keganasan sampah plastik. Jadi ini tidak sekedar bisnis yang berorientasi profit, lebih dari itu ada tanggungjawab moral saya selaku warga untuk bersama-sama menjaga lingkungan agar tetap hijau, sejuk dan asri. Bumi harus tetap lestari dan terjaga dari kerusakan.” Pungkas Firman yang juga aktivis Mahasiswa Pecinta Alam (MAHATALA) Universitas Suryakancana semasa ia kuliah dulu. 
Gambar: Silaturahmi bulanan antar pengurus Radesa, bergilir di setiap desa yang menjadi bagian dari radio komunitas warga.

Jika kita ulas balik, pada tahun 80-90an mungkin radio berada pada masa puncak jayanya. Pada era itu orang-orang sering mendegarkan berita, hanya menjawab kuis, menitip salam, menunggu pesan  yang dibacakan penyiar, atau menunggu music yang diminta untuk diputar ketika pada saat jam stasiun radio favoritnya memulai siaran. Namun perlahan radio mulai kehilangan para pendegarnya, ketika memasuki tahun 2000 an muncul teknologi baru yaitu televisi. Masyakrakat menemukan media hiburan yang baru dan lebih modern dan radio menjadi bukan satu-satunya  tempat mencari hiburan dan informasi.  

Bergeser ke era selanjutnya kemudian muncul Internet, orang-orang bisa mengunduh lagu kesukaan mereka kapan saja dan dimana saja. Internet juga memungkinkan masyarakat memperoleh informasi dengan cepat. Hebatnya radio masih bisa bertahan di era internet dan digital. Walaupun sudah banyak teknologi hebat yang muncul  ternyata masih banyak masyarakat di Indonesia yang menjadi pendengar setia radio. Hasil temuan Nielsen Radio Audience Measurement pada kuartal ketiga tahun ini menunjukkan bahwa 57% dari total pendengar radio berasal dari Generasi Z dan Millenials atau para konsumen masa depan. Saat ini 4 dari 10 orang pendengar radio mendengarkan radio melalui perangkat yang lebih personal yaitu mobile phone. Lantas bagaimana Cara Radio Bertahan?, ini menarik. Tuntutan teknologi yang berkembang semakin cepat mau tidak mau membuat pemilik perusahaan radio harus memutar otak agar dapat bertahan di era yang serba canggih ini. Sejak kelahiran Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, secara kuantitatif jumlah radio siaran di Indonesia mengalami lonjakan yang fantastik. Pada 1998, jumlah stasiun radio kurang dari seribu. Saat ini, jumlahnya sekitar 3.000 lembaga penyiaran radio apabila merujuk pada data Kementerian Komunikasi dan Informatika. Para pemilik lembaga penyiaran radio akhirnya mengadaptasi teknologi modern. Salah satu fenomena yang juga menggerus eksistensi radio siaran adalah layanan streaming musik, semenjak masuk nya Spotify ke Indonesia pada tahun 2016 membuat masyarakat terutama anak muda yang memilih layanan streaming daripada saluran FM\AM, bergandengan dengan pemerintah daerah dalam membangun kualitas umat. Dan sebenarnya inilah yang menjadi harapan Firman dan Warga Desa Jambudipa Warungkondang Cianjur, ada kepedulian dari pemerintah untuk dapat menjadi mitra dalam rangka membina potensi baik ini, warga akan kooperatif pastinya. (Man/Rimba)