Lentera Politik: "PERSETRUAN POLITIK YANG (kurang) MENARIK DI PILKADA CIANJUR"
Cari Berita

Advertisement

Lentera Politik: "PERSETRUAN POLITIK YANG (kurang) MENARIK DI PILKADA CIANJUR"

Saturday, September 5, 2020


Lentera Politik: "PERSETRUAN POLITIK YANG (kurang) MENARIK DI PILKADA CIANJUR"

Cianjur// WorldNews.my.id: Perhelatan Pesta Demokrasi lima tahunan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Cianjur sudah diambang mata. Tepatnya 09 Desember 2020, bertepatan dengan hari Rabu, segenap warga Kabupaten Cianjur yang berjumlah sekitar 2,5 Juta jiwa akan merayakan gempita politik lokal memperebutkan kursi Panas Pendopo. Setidaknya ada empat pasangan calon ataupun bakal pasangan calon (Bapaslon) yang mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Cianjur. Sebut saja pertama, Herman Suherman-Tb.Mulyana (BHS-M) yang memperoleh rekomendasi lima partai yakni PDIP, Golkar, PAN, Nasdem, dan PPP. Kedua¸Oting Zaenal Mutaqin-Wawan Setiawan (OTW) yang diusung oleh Partai Gerindra dan Partai Demokrat. Ketiga, pasangan Lepi Ali Firmansyah-Gilar Budi Raharja (PILAR) dengan partai pengusung PKB dan PKS. Keempat, pasangan independent Muhammad Toha-Ade Sobari (HADE).     

Jika merujuk kepada teori komunikasi politik, politik Pilkada senantiasa mensyaratkan dan berkorelasi dengan hal berikut ini yaitu Popularitas, Akseptabilitas, Elektabilitas, dan yang tidak kalah penting adalah “isi tas”. Populer belum tentu memperoleh ruang di hati calon pemilih (akseptabilitas), apalgi bagi calon yang baru terjun ke ranah politik praktis, sulit untuk mmenyegerakan ruang hati rakyat bagi new comer. Peluang untuk dipilih (elektabilitas), semuanya berpeluang untuk dipilih, dan pasti dipilih, hanya permasalahannya kadar prosentase dari produk akhir pemilihan itu yang menjadi persoalan, karena tidak mungkin semuanya menang dan mustahil pula semuanya kalah, ada diantara ke empat paslon ini yang menang dan adapula yang kalah, dan inilah rumus politik paling dasar. Kalah menang dalam konteks politik itu bukalah takdir melainkan produk akhir dari ikhtiar (ngolah) masa menjadi mesin politik produktif, apakah dengan cara dipersuasi sehingga melahirkan partisipasi, ataukah dipaksa dengan cara-cara liar khas politisi, yaitu mobilisasi masa.  

Jika dilihat dari semua pasangan calon, upaya mempersuasi ataupun memaksa calon kans politik sangat memungkinkan dilakukan, karena orientasi semua paslon adalah menang bukan kalah. Pun demikian dengan posisi Herman Suherman (HS) selaku incumbent Plt Bupati Cianjur yang kini menjadi kontestan. HS sangat berpeluang untuk melakukan kedua hal tersebut diatas, karena ia penguasa. Pertaruhan harga diri dan kehormatan sebagai Plt. Bupati dipertaruhkan, meski ia telah menanggalkan status itu sebelum pendaftaran ke KPU. Petahana/ incumbent ketika menjadi peserta Pilkada maka ia berpeluang melakukan beberapa hal sebagaimana yang dilansir oleh Bawaslu tentang Indek Kerawanan Pemilu (IKP) yaitu politisasi anggaran, mobilisasi ASN dengan segenap perangkatnya, dan money politik. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh penguasa untuk menuntaskan syahwat politiknya, bukankah kekuasaan politik itu candu dan mengekstasi?. Ini logika dasar kekuasaan, dan sulit untuk menafikan hal tersebut. Namun bagi petahana yang taat asas, ia akan sangat berhati-hati untuk tidak melanggar aturan main yang telah dibakukan oleh pemerintah baik dalam UU Pemilu maupun PKPU terbaru tentang Pilkada.  

Selanjutnya, ada hal menarik lainnya dari pasangan Pilkada Kabupaten Cianjur, yakni munculnya sosok Oting Zaenal Mutaqin (OZM) yang merupakan mantan Sekretaris Daerah yang kini menjadi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur. Jika dilihat dari kacamata birokrasi, OZM adalah bagian struktural dari kepentingan kekuasaan Herman Suherman selaku atasannya, dengan bahasa lain “OZM campelak melawan pimpinannya HS”, padahal sebelumnya sunyi terdengar jika HS dan OZM berseteru, diantara keduanya adem dan diem-diem bae kalo orang Betawi bilang. Pertanyaan muncul di benak publik,  benarkah konflik politik diantara keduanya adalah alamiah ataukah setingan semata untuk mengganjal Figur Perubahan Dokter Suranto dan Kiki Setiawan (Mantu TMS) melalui perebutan rekomendasi Partai Gerindra yang dimenangkan oleh OZM ??? Bukankah HS dan OZM adalah birokrat sekaligus poitisi yang dilahirkan dari rahim TMS ??? Bersambung...(Redaksi WN)